Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Wednesday, 13 May 2015

Cerita Misteri - AKHIR RIWAYAT PENGAMAL ILMU KEBAL

Penulis : EKO HARTONO


Karena miskin dan sering dihina, dia akhirnya menghamba kepada setan untuk mendapatkan kesaktian. Setelah tubuhnya kebal dari terjangan senjata apapun, dia berubah menjadi seorang yang sangat jahat. Bagaimana akhir kisah mistis hidupnya...?
Dunia Seram - Arogansi dan kesewenang-wenangan akan membawa kehancuran. Itulah pelajaran penting dalam kehidupan yang sering dilupakan manusia. Sudah sering terjadi dalam sejarah, orang yang sombong, merasa lebih tinggi derajatnya atau kedudukannya dari orang lain, pada akhirnya justru akan jatuh dalam kehinaan yang paling rendah. Bahkan bisa lebih fatal dari itu, yakni kematian yang sia-sia.
Kenyataan ini pula yang menimpa Margono (bukan nama sebenarnya). Riwayat hidupnya mungkin bisa menjadi cermin bagi kita semua, khususnya mereka yang mendalami ilmu kesaktian dengan dalih perlindungan diri agar terhindar dari tindak kejahatan. Karena apa yang tadinya diniatkan untuk kebaikan bila tidak diiringi dengan sikap perilaku benar justru akan menjerumuskan atau menyesatkan.
Misteri memperoleh cerita tentang riwayat hidup Margono dari salah seorang kerabat dekatnya. Kebetulan Misteri sedang berkunjung ke rumah famili di sebuah pelosok desa di luar kota Solo, Jawa Tengah. Ketika itu, Misteri menemukan seorang laki-laki cukup tua dikurung dalam ruangan mirip sel tahanan dengan kedua tangan dan kaki dirantai. Dia menghabiskan sisa hidupnya di kurungan itu. Makan, minum, dan buang air besar di tempat itu. Lelaki renta yang tak berdaya itu tak lain adalah Margono!
Kenapa dia sampai menjalani hidup seperti binatang atau manusia tak berharga begitu?
"Dia sudah tidak waras, suka merusak, dan mengganggu warga setempat. Padahal dulunya dia orang yang sakti. Tubuhnya kebal dari senjata tajam dan mampu membengkokkan sebatang besi!" Ujar Sasmito, kerabat Margono.
"Kalau dia bisa membengkokkan besi, kenapa dia tidak bisa melarikan diri?" Tanya Misteri.
"Karena dia sudah tidak bisa apa-apa. Semua kesaktian yang dimilikinya telah musnah, bahkan otak warasnya ikut musnah pula!"
"Masya Allah! Bagaimana bisa begitu, Pak?"
"Ceritanya panjang...."
Selanjutnya sang kerabat meriwayatkan perjalanan hidup Margono.
Dia dilahirkan dalam keadaan yatim piatu dan di lingkungan keluarga miskin. Margono tumbuh menjadi anak yang minder dan tertutup. Ayahnya sudah meninggal saat dia masih bayi. Sementara ibunya yang janda kemudian kawin lagi.
Margono yang waktu itu masih berusia lima tahun kemudian diasuh oleh kakek dan neneknya. Margono hanya bisa bersekolah hingga SD karena orangtuanya sudah tidak mampu membiayai.
Sehari-harinya, dia membantu kakeknya menggembala ternak dan menggarap ladang. Dalam pergaulan, Margono sering diejek, dilecehkan, dan direndahkan oleh teman-temannya. Maklumlah, karena tubuhnya paling kurus dan hidupnya miskin.
Dia pun tak melawan jika dipukul oleh temannya. Dia sering dijadikan kacung atau suruhan oleh mereka. Margono menyadari dirinya punya kekurangan dan kelemahan.
Suatu hari Margono mendengar informasi dari temannya tentang orang pintar yang berilmu tinggi. Konon, orang pintar itu mengajarkan ilmu kebal, pengasihan, ilmu tenaga dalam, dan lain sebagainya.
Dia jadi tertarik untuk berguru padanya. Dia lalu meminta ijin pada kakeknya untuk pergi menemui orang pintar itu dan belajar ilmu padanya.
"Untuk apa kamu belajar ilmu seperti itu, Mar?" Ujar kakeknya ingin tahun.
"Untuk membekali diri, Mbah. Biar aku tidak terus direndahkan dan diremehkan orang!" Jawab Margono.
"Ingat, Lek, kalau kamu tidak kuat, kamu nanti bisa gila. Ilmu kesaktian mesti dipelajari dengan laku yang berat. Lagi pula kamu belum tahu, apakah ilmu yang diajarkan orang itu tergolong ilmu hitam atau ilmu putih. Kalau ilmu hitam, sebaiknya kamu urungkan niatmu itu. Nanti justru akan merusak dirimu sendiri!"
Margono tak bergeming. Dia tetap pada niatnya. Meski tanpa restu dari kakeknya, Margono pergi menemui orang pintar yang tinggal di daerah lereng pegunungan. Rumah orang pintar yang bernama Mbah Joyo itu hanya berupa gubuk bambu dan agak terpencil.
Dia hidup sederhana, seperti ingin menjauhi dunia ramai. Namun demikian, ternyata tak sedikit orang yang datang menyambanginya. Terutama pada malam Selasa dan Jum'at Kliwon.
Mbah Joyo sering menjadi perantara bagi orang-orang yang ingin menjalankan laku tirakat pesugihan atau semedi di salah satu goa keramat di lereng pegunugnan itu.
Ketika Margono yang masih muda itu datang mengutarakan maksud kedatangannya, Mbah Joyo malah tertawa terkekeh-kekeh.
"Buat apa kamu ingin punya ilmu kesaktian, bocah ingusan?" Tanyanya.
"Biar saya tidak direndahkan dan diremehkan orang, Mbah. Saya ingin kaya dan punya kedudukan, biar dihormati orang lain!" Jawab Margono.
"Syaratnya berat! Aku yakin, kamu tak sanggup!"
"Saya sanggup, Mbah. Apapun resikonya!"
Karena terus memaksa dan ngotot, akhirnya Mbah Joyo menyanggupinya. Dia lalu meminta Margono tinggal beberapa waktu di tempatnya. Margono harus menjalani beberapa laku dan tirakat untuk memasukkan ilmu gaib itu ke dalam tubuhnya.
Sebelum memasukkan unsur gaib itu ke dalam tubuhnya, Mbah Joyo sempat memberikan keterangan pada Margono, "Aku akan memasukkan kekuatan jin kafir dalam tubuhmu yang akan membuat kamu kebal, tidak mampan senjata tajam, dan mampu membengkokkan sebatang besi. Dengan kelebihan ini kamu bisa mewujudkan keinginanmu. Tapi ingat, ilmu ini harus kamu rawat. Setiap malam Jum'at Kliwon diberi sesaji dan tumbal. Apakah kamu bersedia?"
"Bersedia, Mbah!" Jawab Margono, tegas. Dia merasa tak perlu berpikir ulang lagi untuk menyanggupi persyaratan yang diberikan Mbah Joyo, atau berusaha tahu apa efek samping ilmu itu nantinya.
Begitulah. Setelah menjalankan laku tirakat, ritual, dan merapalkan mantera-mantera, akhirnya Margono dinyatakan berhasil menguasai ilmu yang diberikan Mbah Joyo.
Sebelum keluar dari tempat pengemblengannya dan kembali ke dunia ramai, Margono melakukan ritual menyembelih ayam cemani yang seluruh bulu dan tubuhnya berwarna hitam.Penyembelihan itu mungkin mengandung makna sebagai bentuk pengorbanan atau persembahan.
Margono lalu pulang ke kampung halamannya. Tapi betapa kaget ketika sampai di rumah, dia mendapati kenyataan pahit, kakek yang dicintainya meninggal dunia. Kematian kakeknya pun terkesan misterius dan mendadak. Menurut cerita, orangtua itu diketahui sedang menyabit rumput di tegalan. Entah bagaimana kejadiannya orang-orang sudah menemukan dia dalam keadaan tergeletak di bawah pohon dengan sabit masih menancap di lehernya. Ada kemungkinan dia naik ke atas pohon dan jatuh. Saat terjatuh itu tanpa sengaja sabit yang dipegangnya menancap di leher.
Tapi bagi Margono yang melihatnya seolah tak ada yang aneh. Dia teringat dengan ayam cemani yang disembelih dan diminum darahnya pagi tadi. Sepertinya kematian ayam cemani itu menyerupai kematian kakeknya. Mungkin ini isyarat tumbal seperti yang dikatakan Mbah Joyo. Kematian kakeknya tak lain merupakan tumbal yang menjadi persembahannya.
Hati Margono seperti tercabik-cabik rasanya, tapi dia berusaha menekannya. Dia menepis rasa bersalah. Toh, kakeknya sudah cukup tua dan pantas mati, batinnya menenangkan diri.
Selanjutnya Margono menjalani hidupnya yang baru. Kini dia bukan lagi Margono yang lemah, tak berdaya, dan cengeng. Dia berubah menjadi Margono yang pemberani dan tangguh. Jika ada orang yang meremehkan dan merendahkannya, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan menantang orang itu berkelahi, bahkan memintanya untuk memakai senjata tajam sementara dirinya hanya tangan kosong.
Suatu ketika, terjadi perselihan antara Margono dengan sekelompok pemuda desa. Margono langsung menantang perang tanding. Tantangan ini langsung ditanggapi oleg gerombolan pemuda itu. Namun, saat mereka menyerangnya dengan pukulan, tendangan, dan sabetan clurit, Margono diam saja. Dia membiarkan tubuhnya jadi bulan-bulanan. Tapi ajaib, kulit Margono tidak tergores atau terluka sedikitpun. Malah tangan orang-orang yang memukulnya menjadi kesakitan.
Melihat Margono tak mempan dibacok dan ditembus senjata tajam, kontan para pemuda itu merendahkan diri di depan Margono dan memohon ampunan. Margono tertawa penuh kemenangan.
Merasa di atas angin, Margono meminta mereka mencium kakinya dan menjilatinya. Jika tidak mau, dia mengancam akan membunuh mereka. Bak anjing yang setia pada majikannya, mereka pun menurut saja menciumi dan menjilati kaki Margono.
Puas telah berhasil merendahkan orang-orang yang pernah merendahkan dan mengejeknya, Margono lalu memeras dan memanfaatkan mereka. Dia merekrut para pemuda berandalan untuk dijadikan anak buahnya. Mereka dipaksa mencuri, merampok, dan merampas harta benda orang lain.
Sepak terjang Margono sebagai bandit sekaligus pemimpin preman langsung mencuat. Dia sering menebar teror di tengah masyarakat. Bersama dengan para anak buahnya, Margono melakukan berbagai tindak kejahatan.
Uang hasil kejahatan digunakan untuk berfoya-foya, minum-minuman keras, dan main perempuan. Margono sendiri seperti tidak takut dengan perilaku kejahatannya yang bisa membawanya berurusan dengan hukum. Bahkan dengan terang-terangan dia pernah menantang petugas keamanan.
"Aku tidak takut sama polisi! Ayo, mana polisi yang berani menangkap ku? Mana polisi yang berani menembakku?!" Ujarnya dengan nada penuh kesombongan.
Suatu ketika ada petugas polisi sektor setempat yang mendengar ucapan Margono dan merasa tertantang. Dia pun diam-diam ingin meringkus Margono. Kebetulan dia mengetahui tempat Margono dan teman-temannya sering bermain judi serta minum-minuman keras.
Dengan penuh rasa percaya diri, petugas itu menggerebek Margono Cs. sambil menodongkan pistolnya. Tapi Margono tampak tenang saja.
"Ayo, tembak aku kalau berani!" Tantangnya.
Terpancing emosi, polisi itu pun langsung menembak kaki Margono sesuai prosedur. Tapi apa yang terjadi? Bukannya merintih kesakitan atau terjatuh, Margono malah tertawa geli. Dia lalu memperlihatkan bekas tembakan peluru yang ternyata hanya merobek kain celana tanpa menggores kulitnya.
Wajah polilsi itu jadi pucat pasi dan gemetar. Selanjutnya kejadian berbalik, polisi itu yang kemudian dihajar beramai-ramai oleh Margono dan anak buahnya. Dia diancam jika sampai mengganggu geng Margono akan dibunuh.
Begitulah. Para petugas pun ngeri berhadapan dengan gerombolan Margono. Mereka tidak pernah punya bukti untuk mengungkap kejahatan Margono agar bisa menangkapnya. Karena dalam menjalankan aksi kejahatannya, Margono begitu licin dan tak terdeksi.
Meski semua orang tahu bahwa pekerjaan Margono suka merampok dan mencuri, dan semua kekayaan dan rumah mewah yang dimilikinya adalah hasil kejahatan, tapi tak ada yang bisa membuktikan dan menangkap basah perbuatannya. Konon, dalam menjalankan aksinya, Margono menggunakan ajian atau ilmu gaib yang tidak memungkinkan terlihat oleh orang biasa.
Telah banyak orang atau kelompok masyarakat yang menjadi korban kesewenang-wenangan dan kejahatan Margono. Hal ini kemudian memunculkan inisiatif dari seorang tokoh masyarakat untuk meminta bantuan orang pintar. Dia menemui seorang Kyai di luar daerah yang berilmu tinggi. Menurutnya, kejahatan Margono yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan ilmu hitam hanya bisa dihentikan dengan kekuatan ilmu putih. Hanya saja, yang menjadi masalah bagaimana melawan kemampuan ilmu kebal yang dimiliki Margono.
"Setiap orang punya kelemahan dan kekurangan pada dirinya. Tidak ada orang yang paling sakti dan ampuh di dunia ini. Yang paling tinggi ilmunya hanyalah Allah SWT. Yang dilakukan orang-orang seperti Margono hanyalah mengandalkan salah satu kemampuannya untuk mengesankan bahwa dirinya sangat kuat dan tak terkalahkan!" Demikian keterangan Pak Kyai.
"Jadi apa yang harus kami lakukan, Pak Kyai?"
"Beri saya waktu untuk meneropong secara batin kekuatan tersembunyi yang dimiliki Margono sekaligus titik kelemahannya!"
Pak Kyai itu lalu melakukan ritual khusus di ruang sembahyangnya. Untuk beberapa lama Pak Kyai bertafakur tanpa ada seorang pun boleh mengganggunya. Setelah selesai dengan ritualnya, beliau kembali keluar menemui tamunya.
"Insya Allah, saya tahu kelemahan dari saudara Margono. Ilmu kebal yang dimilikinya akan sirna bila dipukul dengan daun kelor sambil membacakan doa-doa tertentu!" Ujar Pak Kyai.
"Kami pernah mencoba memukul dengan daun kelor, tapi tak mempan?"
"Dipukul pada tengkuknya, karena disanalah letak simpul syaraf yang menghubungkan antara syaraf otak dan syaraf bagian tubuh!"
"Kalau begitu cepat kita lakukan saja, Pak Kyai, sebelum kejahatan Margono semakin merajela!"
"Sebentar! Kita tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan. Saya tahu, Margono orang jahat dan sesat. Tapi sebelum mengambil tindakan keras padanya, kita perlu mengajaknya secara baik-baik untuk kembali pada jalan lurus. Mudah-mudahan, dengan cara halus kita bisa membawanya kembali pada jalan kebenaran!"
Apa yang dikatakan Pak Kyai benar. Kejahatan tidak harus dilawan dengan kekarasan. Maka, diantar oleh tamunya itu Pak Kyai tersebut menemui Margono. Dengan terus terang Pak Kyai mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ingat, Nak Margono. Yang namanya perbuatan jahat kelak akan dihisab oleh Allah SWT dan akan mendapatkan ganjarannya. Sebelum segalanya terlambat, lebih baik Nak Margono tertobat dan kembali ke jalan benar. Insya Allah, jika Nak Margono bertobat nasuha segala dosa-dosa yang lalu akan diampuni Allah. Percayalah!" Demikian ajakan Pak Kyai.
Tapi ajakan kebaikan itu ditampik keras oleh Margono. Bahkan dengan kasar dia mengusir Pak Kyai. Dia mendorong tubuh Pak Kyai agar keluar dari rumahnya. Pak Kyai tak melawan. Hal ini membuat Margono semakin beringas. Dia menghajar Pak Kyai di hadapan orang-orang. Pada saat mendapat kesempatan, Pak Kyai tidak tinggal diam. Dia mengambil ranting daun kelor yang telah dipersiapkan dan membacakan doa-doa.
Sambil mengucapkan Astagfirullah dia lalu menyabetkan ranting daun kelor itu ke tengkuk Margono. Laki-laki bejat itu sempat menjerit kesaktian sebelum kemudian ambruk tak sadarkan diri.
Hampir selama dua hari Margono pingsan. Ketika siuman, keadaannya sudah berubah sertaus delapan puluh derajat. Dia menjadi lupa ingatan dan hilang seluruh kekuatan ilmu kesaktian pada dirinya.
Pak Kyai sudah berusaha meruqiahnya agar bisa dikembalikan dalam keadaan normal, tapi beliau tak sanggup. Jiwa Margono sudah terlanjur rusak oleh perbuatan jin kafir.
Begitulah. Margono akhirnya berubah menjadi tidak waras. Oleh kerabatnya dia diperlihara dan dirawat. Tapi karena sering membahayakan orang lain, dia dikurung seperti binatang. Kabar terakhir yang di dengar, dia sudah meninggal dalam keaadaan gantung diri! Naudzubillahi minzalik !




Credit to Sumber

Friday, 8 May 2015

Friday, 1 May 2015

Grey Lady - Betul ke??

LONDON 26 Feb. – Seorang pelajar sekolah menengah terkejut apabila dia secara tidak sengaja merakamkan imej hantu Grey Lady menggunakan telefon pintarnya baru-baru ini di Istana Hampton Court.

Memetik kenyataan Utusan Online hari ini melalui laporan Daily Mail, Holly Hampsheir, 12, mendakwa secara tidak sengaja merakamkan imej hantu tersebut ketika mengambil gambar sepupunya, Brook McGee semasa mengunjungi istana yang dibina pada kurun ke-16 itu.

Remaja sekolah itu mendakwa imej tersebut ialah kelibat Grey Lady yang dikenali sebagai Dame Sybil Penn, pelayan Ratu Elizabeth I.




Hampsheir yang berasal dari Hornchurch, Havering memberitahu akhbar The Sun, dia berasa sangat bingung dengan hasil imej yang dirakamkannya.

“Saya benar-benar panik. Saya tidak melihat apa-apa ketika itu.

“Orang ramai berkata, keadaan bilik akan menjadi sejuk apabila hantu mula muncul namun kami tidak mengetahuinya. Sejak itu kami sering terjaga ketika tidur,” katanya.

Sementara itu, ibunya, Holly Angie, 48, berkata, ketika kejadian tiada orang lain berada di ruangan itu kecuali dua remaja berkenaan.


Seorang pakar fotografi menyatakan, dia percaya imej dirakam pelajar perempuan itu tidak diedit.

Penn meninggal dunia pada tahun 1562 kerana demam campak dan terdapat beberapa laporan menyatakan kelibatnya sering dilihat di Istana Hampton Court.

Wednesday, 8 April 2015

Realiti Sunyi - part 5

“Mia!.. Mia!” jerit Chloe dan yang lain. Mencari dalam keadaan yang terhalang dengan penglihatan yang terhad. “Semua sini” Panggil Alif yang mulai bersuara. “Kita berpecah cari Mia, Aku, Lyn dan Simon cari disebelah sana, Chloe, Ezrail dan Noel cari sebelah situ, kalau dah jumpa kita kumpul disini semula dalam masa 10 minit” kata Alif mula memberikan arahan dan yang lain angguk mengerti.

Setelah puas mencari bayang Mia tidak juga kelihatan, kawasan yang gelap yang hanya diterangi oleh cahaya bulan penuh tidak memberi sebarang petunjuk. Mereka kemudianya pergi bertemu dengan Pak Ali yang sedang duduk di ruangan kaunter pertanyaan. “Pak Ali, kitaorang ada masalah besar, seorang kawan kami dah takde” bagi tahu Alif ke pada Pak Ali. “dah lama ke hilang?” soal Pak Ali dengan muka tenang.

“Dalam setengah jam yang lalu, Lyn dan Mia pergi toilet kat belakang tu je, tapi bila Lyn keluar Mia dah takde” Lyn memberi penerangan kepada Pak Ali, “Kami dah cuba cari tapi tak jumpa” sambung Noel. “Takpe mungkin dia tersesat je kot, budak-budak perempuan boleh tinggal sini, mungkin Mia balik ke sini,” kata Pak Ali “Aku temankan mereka” sampuk Ezrail untuk temankan Chloe dan Lyn.

“Marilah yang lain” bawa Pak Ali. Terus mencari lagi, Pak Ali membawa ke belakang chalet yang agak menyeramkan, kawasan stor alatan menyelam. “Dekat sini korang dah cari ke?” tanya Pak Ali. “Tak lagi” Kata Alif yang dari tadi mengekori rapat Pak Ali. Mereka terus mencari sehingga ke hujung pantai.

“Hey Mia!!” Jerit Lyn mendekati Mia yang kelihatan dari jauh yang menghala ke arahnya. “Mia pergi mana?, puas kitaorang cari” Lyn yang sudah berada dihadapan Mia. Mia yang masih dalam keadaan keliru “Mia pergi mana??” soal Mia semua dengan muka hairan. “Mia tak pergi mana pun, masa pergi toilet tadi Mia tunggu Lyn kat luar tandas, lepas tu Pak Ali datang, dan suruh Mia pergi ke kaunter sebab katanya ada beberapa lagi perkara tak settle” cerita Mia memberi penjelasan.

 “Lepas tu” Chloe bertanya kepada Mia sebagai tanda tidak mengerti. “Lepas tu Mia pergilah sini, tapi masa perjalanan tu Pak Ali kata ada hal kejap, jadi dia pergi ketempat lain Mia pergi sini”. Kata Mia meyakinkan. “ Korang buat muka cuak, baru berapa minit je Mia jalan pergi sini, takkan korang dah rindu” sambungnya dengan tertawa kecil sambil duduk di kerusi kaunter.

“Mia biar betul, dah nak dekat 2 jam kitaorang tunggu Mia, dan yang lain masih lagi kat luar tengah cari Mia” Ezrail cuba memberitahu Mia yang terkejut dengan apa yang dikatakan Ezrail. “Cepatlah call yang lain bagi tahu Mia dah ada kat sini” kata Mia yang kelihatan sedikit takut dengan menghampiri Lyn yang masih tidak percaya apa yang disampaikan Mia.

Bersambung…

Saturday, 4 April 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #9


Dalam bilik asrama.

 "Wang, cubalah kau berteruterang dengan aku, apa yang terjadi sebenarnya? Aku kesihan melihat engkau begini, ini sudah dua kali orang jumpa engkau pengsan. Kali ini sampai demam pula," Ikhwan bertanya dengan nada yang bimbang.

Thursday, 2 April 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #8

 Cuaca pagi begitu indah dan cerah sekali. Berhampiran kawasan lubang pelupusan sampah kelihatan Intan dan Kamal sedang bertengkar.

Thursday, 26 March 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #7

Sumber asal:
  Seperti penuntut yang lain AK juga seperti mereka hidup sebagai seorang penuntut, cuma pada hari itu cuaca agak mendung dan bila-bila sahaja hujan boleh turun. Ketika AK sedang duduk di bilik kuliah sambil menanti pensyarah tiba, secara tiba-tiba AK berasa amat sakit pada seluruh badan. AK tidak berapa pasti apa yang terjadi ketika itu, apa yang AK pasti pada masa itu seorang pun rakan sekuliah AK tidak sedar yang AK berada dalam kesakitan.

 Pengelihatan AK semakin kabur dan gelap kemudian AK tidak ingat lagi apa yang terjadi selepas itu. AK cuma sedarkan diri apabila seorang rakan menggerakkan AK yang dilihatnya sedang tidur.

Tuesday, 24 March 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #6

Sumber asal:
 Selepas menunaikan solat Zohor di surau AK duduk di tepi tembok kolam ikan, AK semakin berasa tenang apabila melihat ikan-ikan yang sedang berenang ke sana-sini dan AK juga turut bermain dengan air kolam itu.

Monday, 23 March 2015

Realiti Sunyi - part 4

“Dah jom” Simon mengajak Alif yang masih dalam kebingungan. Elektrik yang tadinya mati berfungsi seperti sediakala. Alif membawa Simon ke biliknya untuk menceritakan apa yang berlaku. Jam menunjukan pukul 11.08 malam, Simon minta diri untuk pulang, “Alif aku nak gerak dulu dah pukul 11 dah ni, nanti parents aku marah pula”. “Alah tido sini je lah, esok bukanya ada kuliah pun, call parents ko kata ko tido sini, macam tak biasa” balas Alif untuk Simon bermalam sahaja dirumahnya malam itu. “Yelah-yelah, aku call mak aku kejap”. sambil membuat panggilan.

Sunday, 22 March 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #5

Sumber asal:
  Ketika Intan sedang bersendirian di atas bumbung bangunan asrama lelaki yang tingginya tiga tingkat itu, tiba-tiba muncul Akmal, Ikmal dan Kamal secara mengejut. Intan sedikit terperanjat dan mereka berempat saling berpandangan antara satu sama lain dengan raut wajah yang serius.

 "Kenapa dengan abang Mal bertiga ni? Terkejut Intan tau! Ni muka serius sangat ni kenapa? Macam nak telan Intan je!" memulakan perbualan dengan nada sedikit geram.

Friday, 20 March 2015

Kelas kami #2

Sumber asal: http://awangkilat.blogspot.com/2015/03/kelas-kami-2.html

Dalam bilik guru yang agak sunyi dan tinggal hanya hanya cikgu Shida di dalamnya.

"Amboi... Cikgu Shida termenung jauh nampak, ingatkan buah hati ke?" cikgu Nurul cuba menegur sambil mengusik.

"Eh! Taklah cikgu, Shida just teringat peristiwa pelik yang terjadi semalam,"

"Peristiwa pelik? Apa maksud Cikgu?" cikgu Nurul menjongket kening bingung.

Wednesday, 18 March 2015

Realiti Sunyi - part 3

Di cubanya untuk mengerakkan Bibik “Bibik.. Bibik..” dengan keadaan jari bergeletar. Bibik tidak bergerak sedikit pun, tapi helah nafasnya masih lagi kedengaran. Sedang Alif cuba membangunkan Bibik, bunyi dari kedengaran di perkarangan rumah. Alif cuba mengintai dari jauh ke perkarangan rumah, namun keadaan gelap menghalang jarak penglihatan Alif.

Ketika cuba mendekati pintu masuk utama, tiba-tiba semua lampu didalam rumah terpadam. Alif terus lari ke biliknya di tingkat dua, dengan bantuan lampu kecemasan yang agar samar didalam rumah. Terus mendapatkan telefon bimbitnya untuk membuat panggilan kawan rapatnya Simon yang tinggal beberapa baris di situ untuk meminta bantuan.



Alif buntu didalam bilik, mundar mandir menunggu kedatangan Simon. Alif baru teringat akan ibunya yang masih lagi tidak balik, Alif segera menelefon ibunya tetapi telefon ibunya dimatikan. Alif semakin tidak keruan. Hanya beberapa minit menunggu kedatangan Simon dirasa berhari lamanya.

Pintu utama di ketuk dan Alif melihat dari luar jendela, diperhatikanya Simon berada diperkarangan rumah. Alif terus berlari menuruni anak tangga dengan pantas dan menunju ke pintu utama. “Simon!”, Jerit Alif sebaik sahaja membuka pintu utama. Alif hairan, sebab ibu bersama-sama Simon diluar rumah.



“Ibu.” Dengan muka pucat memerhatikan ibunya. “Bila ibu balik?, Tadi Alif call tapi tak dapat”, sambung Alif dengan nada sedikit gusar. Ibu membalas pertanyaan Alif “Handfon ibu habis bateri, Ibu balik lewat ni pun sebab meeting lambat habis, tambah-tambah lagi traffic jammed” sambil masuk  ke dalam rumah. “Simon aunty masuk dulu ye.”

“Kejap Ibu, Alif sebenarnya ada benda nak bagi tahu.” Dengan muka serius dengan sedikit gemuruh. “Bibik”.. Alif memandang ibu. “Bibik ibu, bibik, dia ada kat bilik air belakang” Ibu dan Simon saling berpandangan dan memerhatikan gelagat Alif.“ Alif tak tahu macam mana Bibik boleh masuk ke dalam mesin basuh. Kita kena bantu dia sekarang” sambil menarik tangan ibunya ke bilik air, Simon hanya mengekori dibelakang ibu dan Alif.

Alif segera membuka penutup mesin basuh yang tertutup rapat. “Ini Ibu”. Sambil menunjuk kedalam mesin basuh. “Apa yang ada kat dalam, hanya baju kotor Alif. Apa yang Alif Nampak?” Tanya Ibu kepada Alif. Alif berasa hairan sebab dia betul-betul telah nampak Bibik didalam mesin basuh tidak sedarkan diri. “Betul ibu, Alif nampak Bibik kat dalam ni” cuba meyakinkan Ibu. “ Ibu lupa nak bagi tahu ke Alif, Bibik ada call pagi tadi bagi tahu dia tak masuk kerja hari ni, sebab rasa badan tak sihat, sudahlah Alif, bawa Simon ke ruang tamu”. Sambil keluar dari bilik air “ aunty naik dulu Simon nak rehat, kalau nak apa-apa minta je kat Alif” Ibu meninggalkan Alif yang didalam ke bingungan. “Tapi Bibik”. Sambil Alif melihat Simon di muka pintu tandas.




Bersambung…

Kelas kami #1

 Seperti biasa keadaan dalam kelas begitu sunyi, kesemua murid duduk berdiam diri di tempat duduk masing-masing.

 Yang kedengaran cuma suara riuh rendah murid-murid dan guru-guru yang berusaha untuk memberi tunjuk ajar. Langkah seorang guru yang teragak-agak sedang menghampiri sebuah kelas yang paling menyeramkan dalam seluruh warga sekolah.

 Cikgu Shida melangkah masuk ke dalam kelas itu, semua murid yang ada telah siap sedia berdiri. Tanpa arahan daripada ketua kelas iaitu Murad, mereka semua serentak mengucapkan salam sebagai rutin kebiasaan seorang guru memasuki kelas. Cuma ucapan yang diberikan berbunyi agak seram sedikit dan cukup berbeza daripada ucapan yang biasa didengar daripada kelas-kelas yang lain.

 "Assalamualaikum! Selamat sejahtera! Cikgu Shida!"

Monday, 16 March 2015

Realiti Sunyi - part 2

“Penatnya hari ni” keluh Alif sambil bebaring di sofa biliknya. Setelah penat yang berpaut hilang, Alif menyiapkan diri untuk mandi dan bersolat. Semua telah selesai, Alif terasa lapar dan bersedia untuk makan malam. Keadaan rumah masih sunyi tanpa sesiapa di rumah.

Alif ke dapur untuk mencari makanan, “Bibik oh Bibik!!” panggil Alif dengan suara kuat. “Mana pula Bibik ni pergi” Alif berkata perlahan sambil menjerang air menggunakan pemanas air elektrik.

Menunggu air mendidih, Alif memerhati bilik air belakang dengan lampu yang masih bernyala dari pagi tadi sebelum dia berangkat ke kuliah. Alif memberanikan diri untuk memeriksa sekali lagi. Dilihatnya keadaan hanya sama seperti pagi tadi. Alif ke bahagian almari penyimpaan sabun untuk diperiksa.

Ternyata setelah dibuka didalam almari tersebut Alif ketemukan sesuatu yang telah lama dicarinya iaitu baju pemberian sahabat lamanya Soer yang telah terputus hubungan kerana telah pergi ke luar negara. Alif terus teringat macam mana perkenalannya dengan Soer. Soer adalah anak kawan ayah yang juga bekerja sebagai pengkaji hidupan laut bersama-sama dengan ayahnya.

Kerana keakraban orang tuanya yang sering melawat kerumah, akhirnya Soer dan Alif berkawan baik. Tetapi secara tiba-tiba ayah soer terpaksa berpindah keluar Negara disebabkan masalah yang tidak dapat dielakkan, sejak dari itu perhubungn Soer dan Alif telah terputus.

“Siapa yang sembunyikan baju ni disini” sambil mengambil baju tersebut Alif berkata dalam hatinya “Bilalah boleh kita boleh bertemu Soer, hampir 8 tahun kita tidak mendengar khabar” dengan tersenyum simpul. Alif membawa baju tersebut  dan dibawanya keluar dari situ.



Ketika Alif ingin keluar dari bilik air tersebut, terlintas dikepala Alif untuk memeriksa didalam mesin basuh automatik yang berada dipenjuru hujung bilik air tersebut. Dengan hati yang berdebar-debar Alif mendekati mesin basuh tersebut, fikirannya bercampur aduk untuk membuka penutup mesin itu atau tidak. Di kuatkannya tekad dan secara pelahan-lahan Alif membuka penutup mesin basuh. “BIBIK!!!!” jerit Alif.


Bersambung…

Saturday, 14 March 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #4

Sumber asal: http://awangkilat.blogspot.com/2015/03/akmal-ikmal-dan-kamal-4.html
 Selesai berwirid AK berjalan perlahan menuju ke pondok di tepi kolam depan surau. Waktu AK sampai ada beberapa orang penuntut lelaki di institut itu sedang rancak bersembang.

 AK hanya memberi salam dan mohon untuk rehat di pondok yang sama. Meraka tidak kisah dan mempersilakan AK masuk ke pondok tersebut. AK tidak berapa kenal dengan mereka kerana berlainan bidang yang diambil. Tidak lama selepas itu mereka meninggalkan pondok dengan tergesa-gesa. AK terkilan sebab mereka tidak memberi salam seperti biasa tapi AK cuba bertenang dan anggap mereka mungkin ada hal yang mustahak.

Friday, 13 March 2015

Realiti Sunyi - part 1

Terjaga dari lena, Alif memerhati kawasan sekeliling yang agak asing buatnya. Alif cuba untuk bangkit dari alas timbunan kain dan tilam, dan menghampiri pintu untuk keluar. Dalam keadaan separa sedar Alif keluar dari pintu bilik sejuk dirumahanya. 

"Kenapa aku kat bilik sejuk pula?" sambil membersihkan dirinya yang sedikit berdebu. Bilik sejuk yang dulunya digunakan untuk meletakkan peralatan menyelam dan sampel kajian ayahnya tidak lagi berfungsi seperti biasa setelah ayahnya bersara. Setelah itu Alif merasa dahaga dan ke dapur rumahnya. "Bibik tak kerja ke hari ni?" Alif berkata sendiri sambil menuju ke peti sejuk. Jam ditangan Alif menunjukan pukul 7.00 pagi.

Alif mengintai melalui jendela dapur ke luar, keadaan masih samar-samar diluar dengan pancaran matahari pagi. Alif ingin ke biliknya semula,  namun terdengar bunyi dibilik air belakang, tempat selalu bibik menbasuh kain. "Kerja juga bibik hari ni", kata Alif didalam hati berlalu pergi. Bibik pembantu rumah warga indonesia yang selalu menyiapkan segala kelengkapan Alif sebelum ke kuliah. Belum sempat Alif berjalan jauh, terdengar bunyi besen jatuh dibilik air. Alif memanggil bibik " Bibik ok ke?" dengan pertanyaan tapi tidak berjawab.



Alif segera ke bilik air belakang tetapi tiada siapa disana, orang yang disangkanya Bibik ternyata tidak muncul lagi untuk bekerja pada hari itu. "Aik.. tak da pula bibik kat sini". Alif terus keluar dari bilik air dan menuju semula ke biliknnya. Alif yang tinggal disebuah banglo 3 tingkat yang telah diubah suai dengan ciri-ciri ala inggeris dengan dilengkapi perabot-perabot jati bermutu. Alif terus ke biliknya di tingkat 2. 

Rasa tidak selesa, Alif masih berfikir macam mana dia boleh berada dibilik sejuk pagi ni. Jam sudah menunjukan pukul 7.22 pagi. Alif kena bersiap untuk kekuliah hari tu. Tiada yang lebih penting bagi Alif selain daripada tuntutan ilmu. Alif segera bersiap dan meninggalkan rumah untuk ke kuliah. Perginya Alif dijemput oleh kawan rapatnya Simon seorang anak perniagaan berjaya yang berbangsa cina. Mereka terus ke kuliah bersama. 

Alif tidak menyedari ibunya tiada dirumah pagi itu akibat daripada terlalu memikirkan bagaimana dia boleh berada dibilik sejuk. Alif agak lewat pulang ke rumah kerana ada perbincangan kumpulan di kolejnya. Pulangnya Alif ke rumah dengan keadaan rumah yang masih gelap dengan lampu tidak dipasang. "Kemana semua orang dalam rumah ni, tak kan tak sedar hari dah malam" Alif mengomel kecil sambil memasuki rumah dan terus ke biliknya. 


Bersambung...

Akmal, Ikmal dan Kamal #3

Sumber asal: http://awangkilat.blogspot.com/2015/03/akmal-ikmal-dan-kamal-3.html
 Renungan tajam oleh gadis berbaju kurung hitam dan bertudung sedikit labuh juga turut hitam warnanya membuatkan AK berdebar. Debaran yang dirasa bukan bermakna AK sudah terjatuh cinta tetapi rasa takut yang memuncak dan AK pun menggeletar seluruh badan hihihi almaklumlah AK ni spesis penakut sikit. Tapi tidak disangkal yang paras rupa gadis itu jika diukir dengan senyuman tentu sungguh menawan.

 Cik adik ni siapa? kenapa tengok saya macam tu?" Tersekat-sekat dan terketar-ketar aku memulakan pertanyaan.

Wednesday, 11 March 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #2

 AK sedang berdiri di lokasi di mana dua malam yang lalu AK telah mengalami pengalaman yang menyeramkan, cuma kali ini yang berbeza adalah hari siang. AK cuba memikirkan semula serba sedikit maklumat mengenai kejadian pada malam tersebut.

 Seingat AK suara perbualan antara Akmal, Ikmal, Kamal dan Intan ada menyebut berkenaan orang yang berada di dalam tandas. Erm.. Adakah orang yang dimaksudkan itu adalah AK?

Sunday, 8 March 2015

Akmal, Ikmal dan Kamal #1

Sekadar gambar hiasan!
 Sewaktu AK melanjutkan pelajaran di sebuah institut pendidikan, AK mempunyai ramai kenalan. Pada mulanya AK tinggal di dalam bilik asrama dengan enam orang penghuni, namun atas sebab-sebab tertentu AK berpindah dengan salah seorang rakan dalam bilik itu ke bangunan asrama sebelah. Di bangunan tersebut tidak ramai yang menghuni di tingkat 3 mungkin kerana malas nak naik tangga.

 Setelah selesai memunggah barang ke dalam bilik tersebut kami hanya tinggal berdua sahaja dalam bilik tersebut. Senang tak banyak kerenah, anak kunci pun ada lebih lagi. Pada mulanya kehidupan kami berlalu seperti biasa, siang hari kami menghadiri kuliah dan malam kami agak lapang untuk melakukan aktiviti masing-masing namun tidak dibenarkan keluar dari institut tersebut.

Saturday, 7 March 2015

Ghost Rider wujud!

Dulu sewaktu filem Ghost Rider begitu mendapat sambutan, sehinggakan ramai orang takut untuk keluar malam terutama sekali kanak-kanak.

Sebenarnya filem itu cuma cerita rekaan semata-mata yang sengaja dibuat-buat oleh orang dari negara barat dan bukan betul pun. Bagi aku filem tersebut tak masuk akal dan karut semata-mata. Watak hantu sengaja direka sebagai tarikan sahaja. Lagi pun hantu mana tahu menunggang motasikal. Hahaha.
Beberapa tahun selepas tayangan filem tersebut di pawagam. Aku berjalan kaki sahaja seorang diri pada waktu malam untuk balik ke rumah, jaraknya boleh tahan juga dalam 2KM apa boleh buat sejak Mikey basikalku yang setia telah meninggalkan aku.

Entah kenapa pada malam tersebut perasaan aku tidak tenang, sedangkan aku baru sahaja solat di masjid. Kebetulan malam tersebut adalah malam Jumaat jadi di masjid kami adakan bacaan surah Yasin, tahlil dan doa selamat.

Tiba-tiba ketika aku berjalan melalui sebatang jalan kampung yang gelap dan di kiri kanan jalan tersebut begitu semak dan serta adalah kawasan belukar. Aku tiba-tiba rebah dan menekup telingaku dengan erat.

Aku terdengar bunyi ganjil yang nyaring kuat dan bercampur-campur dengan bunyi motosikal, seretan rantai dan bunyi seperti jelaga api ditiup angin. Sungguh derita dan takut aku ketika itu hanya tuhan sahaja yang tahu.

Tidak lama selepas itu muncul kelibat mahluk yang begitu mengejutkan aku. Hantu.. rangka tulang manusia yang berapi-api turun dari motosikalnya datang menghampiri aku. Sungguh aku sukar percaya dengan apa yang aku lihat dan rasakan.

Semakin mahluk itu menghampiri aku semakin kuat bunyi yang menyakitkan telinga dan badan aku terasa seolah ikan disalai, namun aku tidak berdaya bergerak tubuhku terkulai lemah di atas tanah.

Hantu itu mengangkat kepalaku menyebabkan tengkuk aku terasa begitu sakit kerana menanggung berat badanku yang tergantung. Hantu itu seolah-olah mempunyai kuasa yang boleh memaksa aku melihat lubang mata pada tengkoraknya yang berapi itu.

Sebelum aku tidak sedarkan diri sempat aku berkata dalam hatiku. Rupanya kau wujud Ghost Rider. Janganlah kau apa-apakan aku...

Tiga hari kemudian aku sedarkan diri dan kelihatan ibu bapa aku berada di sisiku dengan wajah gelisah dan sedih. Mereka bertanya apa yang telah terjadi kepada aku namun aku hanya senyum semampu yang boleh kerana kulit pada bahagian mukaku melecur teruk dan aku tidak menceritakan perkara yang sebenar kepada sesiapa pun.

Sakit memang sakit.. tetapi mujurlah aku selamat. Namun aku muskil kenapa aku seorang sahaja yang dikatakan oleh orang kampung disampuk hantu api. Cis! Ini semua kerana seorang lelaki tua yang datang tanpa diundang mengaku dirinya bomoh kebangsaan yang ditauliahkan kerajaan konon hendak mengubati aku. Nampok benar nipunyer..

Aku beranggapan yang hantu Ghost Rider tu mungkin cuma lalu jalan tersebut pada malam itu dan kebetulan pula masa itu aku pun melalui jalan yang sama. Jadi mungkin sudah hobi dia nak siksa orang jadi aku pun kena jugalah malam itu.

Ambil masa yang lama juga aku nak sembuh tapi itu pun tidak sepenuhnya. Namun itulah kali pertama dan diharap kali terakhir aku terjumpa hantu itu.

Sekian terima kasih kerana sudi membaca. Jumpa lagi dilain cerita.